Sabtu, 12 Maret 2016

CERPEN - You're My Everything






Lima belas menit sebelum Ranto menemui kekasihnya Ranti. Sebenarnya laki-laki itu sudah siap dari tadi. Pakaiannya sudah rapi. Tinggal berangkat saja. Entah kenapa ada yang mengganjal pikiran Ranto. Apa ini jalan yang terbaik yang diambilnya? Terbaik buat siapa? Ranto terduduk lemas di kursi belajarnya dengan lunglai. Dipandanginya seisi kamar dengan tatapan nanar. Inikah takdir cintanya? Harus berakhir begitu saja tanpa kesempatan sedikitpun untuk Ranto mengubah kejadian yang membawa hancurnya hubungannya dengan Ranti hari ini.
Ranto berdiri dan menghempaskan tubuhnya di tempat tidur dengan perasaan kesal. Matanya menatap langit-langit kamarnya. Wajah Ranti tiba-tiba terlukis di atas langit-langit kamarnya. Senyum gadis itu begitu meracuni otaknya. Dan perlahan Ranto memejamkan kelopak matanya.
                                                              *******
“Ranto, kenalin, ini sahabatku sejak SMP, Yulia. Yul, ini cowokku, Ranto.” Ranti memperkenalkan mereka satu sama lain.
Yulia mengulurkan tangannya dengan ceria. “Gue Yulia.”
Ranto membalas uluran tangan Yulia. “Gue Ranto.”
Ranto menatap Yulia begitu dalam. Gadis yang menarik dan begitu memikat. Itulah yang terlintas di pikiran Ranto. Awalnya Ranto tertarik pada sosok gadis ini. Tapi saat melihat kedipan genit di mata Yulia, Ranto segera melepas tangannya dari genggaman Yulia. Ranto melirik sedikit ke arah Ranti. Sepertinya kekasihnya itu tak menyadari kedipan genit yang dilempar Yulia ke arahnya. Ranto tak habis pikir, bukankah Yulia sahabat terdekat dan sahabat lama Ranti? Tapi kenapa gadis cantik itu tak tersirat rasa bersalah sedikitpun di wajahnya  kepada sahabatnya, Ranti karena menggoda kekasih sahabatnya dengan langsung seperti ini? Aneh.
Ranto merasa tak nyaman dengan kehadiran Yulia di antara dirinya dan Ranti. Karena saat Ranto ingin meraih tangan Ranti untuk digenggamannya, Yulia langsung menerobos di antara mereka. Membuat usaha Ranto untuk berkencan romantis dengan Ranti jadi terganggu. Ranto mendesis kesal. Dia melirik Yulia dengan pandangan tajam, yang menyiratkan kalau dirinya tak suka kehadiran gadis itu di sana. Tapi apa yang didapat Ranto? Saat Ranti menoleh ke arah lain, Yulia memberikan kiss bye ke arahnya dengan memasang wajah seseksi mungkin. Ranto melotot kaget. Dan sebelum kemarahan Ranto meledak, Yulia menggandeng lengan Ranti sambil menarik lengan bajunya sepelan mungkin. Ranti menoleh, dan Ranto segera memasang wajah biasa-biasa saja. Laki-laki itu berusaha meredam emosinya yang siap meledak.
“Kenapa, Yul?” tanya Ranti datar sambil menyibak rambutnya yang berkibar ke depan wajahnya.
Yulia memasang senyum polosnya. “Nggak apa-apa kok. Elo lagi ngelihat apa sih? Kelihatannya serius banget,” kilah Yulia.
Ranto mendengus pelan mendengar kata-kata Yulia. Apa gadis ini artis? Pintar sekali berakting. Ranto merasa kasihan dengan kekasihnya Ranti. Gadis yang dicintainya itu kenapa bisa ditipu mentah-mentah? Ranto bertekad akan menjauhkan Yulia dari sisi Ranti. Kalau bisa dia akan membeberkan kelakuan tak pantas yang dilakukan Yulia padanya.
“Apa dia pikir bisa menjerat gue dengan godaannya itu? Hah! Salah besar kalau dia berpikiran seperti itu,” batin Ranto dalam hati. Dia merasa muak dengan sikap Yulia. Gadis bermuka dua.
Ranto merasa gerah dengan sikap gadis ini. Pikirannya sibuk berperang ide bagaimana caranya mengusir Yulia dari sini. Padahal Ranto sudah lama sekali tidak bertemu Ranti. Perasaan rindunya sudah tak terbendung dan dia berencana melewati satu hari ini berdua dengan Ranti. Tapi lihatlah apa yang terjadi. Yulia hadir di antara mereka berdua. Menjadi penghalang dan pengganggu. Rencana yang disusun Ranto hancur sudah. Jangankan jalan-jalan berdua, menggenggam tangan Ranti terasa sulit bagi Ranto.
 “Ranti, kita pulang yuk …. Gue capek banget nih,” kata Yulia tiba-tiba sedikit merajuk. Ranti mengerutkan keningnya.
“Pulang? Sekarang?” tanya balik Ranti. Yulia mengenggam tangan sahabatnya itu.
“Iyalah sekarang! Masak tahun depan?” omel Yulia, memasang wajah cemberut.
Ranto menggertakkan giginya kesal. Dia heran kenapa ada gadis yang tak tahu malu seperti itu? Menjadi obat nyamuk kencannya dengan Ranti. Bersikap menggodanya, walaupun itu tak akan mempan padanya.
Ranti melirik kekasihnya, Ranto. “Emm, aku pulang dulu ya? Kamu nggak apa-apa ‘kan kalau aku pulang?” tanya Ranti sedikit khawatir. Ingin Ranto menarik tangan Ranti dari genggaman tangan Yulia. Tapi niat itu segera diurungkannya setelah Yulia tersenyum manja ke arahnya.
“Iya, aku nggak apa-apa kok. Kamu pulang aja duluan. Lain kali kita bisa ketemuan lagi,” kata Ranto akhirnya.
Ranti menghampiri Ranto dan menggenggam tangannya sebentar. “Maaf ya, kencan kita jadi berantakan.”
Tiba-tiba Yulia menerobos lagi di antara mereka. “Kalau kalian ketemuan lagi ajak gue juga ya?” pinta Yulia memaksa. Ranti melongo mendengar kata-kata sahabatnya itu. Ranto berusaha untuk sabar menghadapi gadis tak tahu malu itu.
Yulia tertawa melihat wajah kaget Ranti dan Ranto. “Hahahaha … gue becanda lagi. Gitu aja dianggap serius. Payah kalian!” ejek Yulia.
Ranto tahu Ranti memaksakan diri untuk ikutan tertawa. Miris rasanya melihat gadis yang dicintainya memiliki sahabat seperti itu. Yulia sama sekali tak pantas disebut sahabat. Lebih pantas gadis itu disebut musuh dalam selimut bagi Ranti. Yulia bukan hanya menggoda Ranto, padahal jelas-jelas gadis itu tahu siapa Ranto. Gadis itu tahu kalau Ranto adalah kekasih sahabatnya tapi malah menggoda dirinya.
“Aku pulang dulu ya? Bye ….” Ranti melambaikan tangannya. Ranto membalasnya. Setelah Ranti berjalan terlebih dahulu, Yulia menatap Ranto penuh minat.
“Gue bisa ketemu lo besok?” bisik Ranti selirih mungkin.
Ranto mengerutkan keningnya, Apa yang diinginkan gadis ini? Perlahan Yulia mencondongkan tubuhnya ke arah Ranto sambil mengawasi sekitar.
“Kalau lo nggak mau gue mencelakai Ranti lo harus ketemu gue besok. Deal?” bisik Yulia bermain taktik.
Ranto menggeram mendengar gadis itu mengancamnya dengan membawa nama Ranti. “Elo sahabatnya Ranti, ‘kan? Kenapa lo tega bertindak seperti ini? Apa lo nggak punya hati? Hah!” sentak Ranto dengan mata merah karena emosi.
“Gue akan jelasin besok. Makanya lo harus datang besok di café Fressia, kalau lo nggak datang ….” Yulia sengaja memutus kata-katanya. Dia tahu Ranto sangat mengerti apa isi kata-katanya selanjutnya.
“Sampai jumpa besok, Sayang ….” Yulia berbisik manja lalu melemparkan kiss bye ke arah Ranto.
Sepeninggal Yulia, Ranto berjalan gontai menuju kosnya. Langkah kakinya terasa berat seberat beban yang dibawanya saat ini. Pikirannya sibuk berkecamuk. Apa yang akan dilakukan Yulia pada Ranti? Andai dia ada sedikit celah untuk memberitahu Ranti tentang sikap buruk Yulia, andai dia punya kekuatan super yang dapat melemparkan Yulia ke kutub utara dan andai-andai yang lain. Ranto mengacak rambutnya kesal.
“Kenapa gue bisa ketemu cewek kejam kayak Yulia? Dan kenapa cewek yang berniat mengganggu hubungan gue sama Ranti itu sahabatnya Ranti? Kenapa? Kenapa? Gue bisa gila lama-lama kalau menghadapi cewek sialan itu.” Ranto mengomel-ngomel sepanjang perjalanan pulang.
Sesampainya di tempat kos, Ranto segera masuk kamar tanpa nongkrong-nongkrong dulu dengan teman-teman kosnya. Dia menghempaskan tubuhnya ke kasur. Rasa penat, emosi, marah, sedih bercampur jadi satu di hatinya. Kepalanya rasanya mau pecah kalau dia tidak segera mencari jalan keluarnya.
Tokk …! Tokk …!
Terdengar ketukan di pintu kamarnya. Ranto memejamkan matanya dan tak mempedulikan ketukan itu. Pikirannya sibuk dengan rencana-rencana untuk mengusir Yulia dari hidup Ranti.
Tokk …! Tokk …!
Ketukan itu kembali terdengar, malah sekarang semakin keras dari yang tadi. Ranto melirik sedikit ke arah pintu.
“Masuk aja! Nggak dikunci kok,” kata Ranto, malas membukakan pintu untuk si pengetuk pintu.
Dan seraut wajah nongol dari balik pintu, ternyata Fian, sahabatnya di kos ini. Perlahan Fian menghampiri Ranto dan duduk di sampingnya. Ranto masih enggan duduk, dia masih berbaring sambil memejamkan mata.
“Elo ada masalah?” tanya Fian lembut.
Ranto membuka matanya, tapi tak menatap Fian. “Iya. Dan masalah ini membuat kepala gue rasanya mau pecah.” Ranto berkata datar.
Fian menghembuskan napas. Benar juga dugaannya tadi. Padahal dia mengajukan pertanyaan itu pada Ranto hanya mau ngetest, dan feelingnya memang terbukti. Sahabatnya itu sedang ada masalah, karena itu wajah Ranto sekarang kusut seperti itu.
“Elo nggak mau cerita ke gue?” tanya Fian lagi.
Kali ini Ranto langsung duduk dan memandang mata Fian. “Apa lo bisa kasih saran yang jitu ke gue?” tanya balik Ranto. Fian mengangguk.
“Cerita dulu, baru gue bisa kasih solusi. Kalau gue nggak tau masalahnya apa gimana gue bisa kasih jalan keluar?”
Ranto mengangguk mengerti. Setelah menenangkan pikirannya sejenak, mengalirlah cerita yang dialaminya tadi. Saat dia berkenalan dengan Yulia, dan bagaimana Yulia menggodanya, sampai pada janjinya dengan Yulia besok karena Yulia mengancam akan mencelakakan Ranti. Fian mendengarkan cerita Ranto dengan seksama. Kadang mulutnya membulat karena tak percaya dengan apa yang didengarnya.
“Gilaaa ….” Fian menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berdecak.
Ranto mendesis. “Kalau dia cowok, gue udah hajar dia. Beneran. Hah! Gue bingung mesti gimana. Elo ada ide?” Ranto menoleh ke arah Fian, berharap sahabatnya itu bisa membantunya keluar dari masalah ini.
Fian berdiri dan berjalan mondar-mandir. “Hmmm, cewek licik kayak gini mesti hati-hati menghadapinya, Ran. Kalau kita bertindak gegabah, bisa-bisa Ranti yang kena. Gue jadi penasaran dengan cewek ini. Kayak apa sih?” Fian menatap tajam ke Ranto, meminta penjelasan terperinci.
Ranto menghela napas. “Gue akui nih cewek menarik, cantik. Tapi pas gue tau kelakuannya kayak gini, gue jadi ilfeel tau nggak? Sumpah, eneg banget gue sama cewek ini. Gue heran, Ranti itu nggak bodoh, apa dia nggak tau kelakuan sahabatnya yang suka merugikan dia itu ya?”
Fian menggelengkan kepalanya. “ Elo salah, Ran. Menurut feeling gue, Ranti sudah tau tentang sikap Yulia yang selalu merugikannya. Tapi mungkin Ranti bingung, apa dia harus memutuskan persahabatannya. Bagaimanapun juga Yulia itu sahabat baiknya sejak SMP. Elo paham maksud gue, ‘kan?” tanya Fian menoleh.
“Gue paham. Tapi seenggaknya Ranti nggak perlu ngenalin gue ke Yulia dong. Apa dia nggak takut Yulia jadi suka sama gue?” Ranto mengacak rambutnya bingung.
“Sepertinya sih Yulia yang memaksa Ranti untuk ngenalin lo ke dia,” sahut Fian yakin.
“Sialan tuh cewek. Dari awal dia udah penasaran sama gue karena itu maksa Ranti ngenalin ke gue. Terus gue mesti gimana besok, Fi?” tanya Ranto frustasi.
“Kita tunggu aja besok. Apa yang diinginkan cewek itu dari lo,” tandas Fian. Ranto mengangguk pasrah.
***
Keesokan harinya Ranto segera bersiap-siap untuk menemui Yulia di café Fressia. Entah apa yang ingin dibicarakan gadis itu. Tapi yang pasti bukan sesuatu yang baik. Ranto yakin Yulia ingin merusak hubungannya dengan Ranti. Itu tak akan pernah terjadi. Sampai kapanpun Ranto tidak berniat melepaskan Ranti dari hidupnya. Tapi yang membuat Ranto heran apa yang dimiliki Yulia sehingga Ranti terus mendiamkan sikap Yulia yang terkadang mengejeknya.
Ranto keluar kamar dengan wajah kusut. Fian yang juga baru keluar kamar menatap Ranto simpati. Perlahan didekatinya sahabatnya itu lalu dia menepuk pelan bahu Ranto untuk memberi semangat.
“Jangan pasang muka kacau gitu. Yulia akan senang membuat lo hampir stress kayak gini. Gue yakin lo bisa ngatasi masalah lo, Ran,” ucap Fian penuh keyakinan.
Ranto tersenyum lemah. “Semoga aja.”
Ranto berjalan gontai menuju café itu. Entah kenapa dia mempunyai feeling tak enak pada hari ini. Tapi kalau dia tidak datang ke café, sesuatu yang buruk akan terjadi pada Ranti, dan Ranto tak mau hal itu terjadi. Lebih baik kejadian buruk itu menimpanya daripada menimpa Ranti, gadis yang begitu berarti baginya.
Sesampainya di café, Ranto duduk di meja depan agar mudah terlihat kalau Yulia datang. Sambil menunggu kedatangan gadis itu, Ranto mengeluarkan ponselnya. Ditelusurinya phone book, ketika sampai pada nama Ranti, tombol call segera ditekannya. Ranto sangat merindukan gadis itu.
“Hallo?” terdengar suara dari seberang.
Ranto tersenyum mendengar suara itu. “Kamu lagi ngapain?” tanya Ranto.
“Lagi di pasar nih. Mama nyuruh aku belanja. Kamu sendiri dimana, Say?” tanya balik Ranti.
Ranto berdehem sebentar. “Lagi santai-santai aja di kos-an. Lagi nongkrong nih sama anak-anak,” jawab Ranto berbohong.
Ranto merasa sedikit bersalah terpaksa membohongi Ranti. Tapi Ranti tidak boleh tahu kalau dia mau bertemu dengan Yulia.
“Aku kangen …,” bisik Ranto tersenyum.
Ranti tertawa di seberang. “Hahahaha … kita baru ketemu kemarin, masak udah kangen sih? Lebay ikh …,” cibir Ranti.
“Tanggapannya kok gitu sih, Say? Jadi kamu nggak mau nih aku kangenin? Ya udah, aku kangenin cewek lain aja deh,” pancing Ranto.
“Ikh, gitu aja ngambek. Iya deh … karena aku juga kangennn banget sama kamu. Pengen ketemu kamu lagi,” ucap Ranti sedikit merajuk.
“Iya, Sayang. Ntar kita kencan berdua aja ya? Jangan ngajakin temenmu itu lagi. Ya?”
“Maaf soal yang kemarin ya, Say. Aku nggak ada maksud ngerusak acara kencan kita. Padahal kita udah lama nggak ketemu karena mid test,” kata Ranti sedih.
“Aku ngerti kok. Emm, ya udah teleponnya aku tutup dulu ya, Say?” bisik Ranto pelan.
“He’em. Love you …,” bisik Ranti mesra.
“Love you too …,” balas Ranto.
Klik!
Sambungan langsung terputus. Ranto menopang dagunya sambil melihat keluar café. Sebelah tempat duduknya adalah kaca jadi dia leluasa menikmati pemandangan di luar café. Masih terselip perasaan bersalah atas kebohongannya pada Ranti barusan.
“Maaf ya, Ran. Aku nggak ada maksud berbohong seperti tadi. Maaf,” gumam Ranto lirih.
“Udah lama ya?” sebuah suara mengagetkannya. Ranto menoleh, ternyata Yulia. Hampir saja dia lupa ketemuan sama Yulia di sini.
“Nggak juga.”
Yulia tersenyum manja. Ditariknya kursi di depan Ranto dan gadis itu langsung duduk. Sengaja Yulia memakai pakaian yang minim untuk merebut hati Ranto, tapi laki-laki di depannya itu sama sekali tak memandangnya. Yulia langsung kecewa. Sulit sekali mendapatkan laki-laki satu ini.
“Sekarang lo cepetan bilang apa yang lo inginkan dari gue,” tandas Ranto.
Yulia mencebik. “Elo itu orangnya nggak sabaran ya? Gue baru datang, capek, paling nggak biarin gue pesen minuman dulu bisa, ‘kan?” cerocos Yulia.
Ranto mengibaskan tangannya. “Terserah lo deh.”
Yulia melambaikan tangannya ke arah seorang waiters yang kebetulan berada di seberang. Waiters itu mengangguk dan menghampiri Yulia dan Ranto.
“Mau pesan apa, Mbak?” tanya waiters itu sambil menyodorkan buku menu.
Yulia meraih buku menu itu dan membukanya. Jari-jarinya bergerak di atas nama-nama makanan. Karena dia tak mau Ranto kesal karena lama menunggunya, Yulia menunjuk salah satu menu ke waiters itu.
“Gue pesen minuman aja, Mbak. Satu es jeruk ya?” Yulia melirik ke arah Ranto, “Elo pesen apa?” tanya Yulia basa-basi.
“Nggak usah.” Kata-kata Ranto sangat datar dan cuek.
Yulia mengedikkan bahunya. “Itu aja, Mbak. Makasih ya?” kata Yulia sambil mengembalikan buku menu ke waiters tadi.
Setelah mencatat pesanan Yulia, waiters itu mengangguk dan berlalu untuk membuatkan pesanan Yulia.
Yulia menatap Ranto tanpa malu-malu. Dikembangkannya senyum di bibirnya, tapi sepertinya percuma. Ranto sama sekali tak melirik ke arahnya.
“Elo kok dingin banget sih sama gue?” tanya Yulia sedikit tersinggung.
“Suka-suka gue.” Ranto menjawab tanpa menoleh sedikitpun.
Yulia mencebik kesal. Laki-laki di depannya ini memang agak menyebalkan, tapi dia terlanjur tertarik bahkan jatuh hati padanya. Yulia tak akan menyerah sampai akhir. Walau Ranto kekasih Ranti, tapi sebentar lagi, bukan, dalam hitungan detik ini hubungan mereka akan hancur.
Waiters tadi rupanya sudah membawakan pesanan Yulia. Sambil tersenyum minuman itu ditaruhnya di depan Yulia. Setelah mengucapkan terima kasih, Yulia menyesap minumannya. Setengah gelas langsung tandas.
“Gue nggak mau lama-lama, Yul. Apa yang lo mau? Hah?” Ranto akhirnya terpaksa menoleh dan menatap tajam Yulia. Wajah Yulia langsung sumringah.
“Akhirnya lo mau melihat gue … dari gue datang tadi lo nggak pernah memandang gue. Nyebelin banget tau nggak digituin.” Yulia mengalihkan pembicaraan.
“Yul, please ….” Ranto sangat benci kalau harus memohon pada gadis seperti Yulia. Tapi dia harus segera menyelesaikan urusannya dengan gadis ini. Dia sudah muak melihat wajah Yulia.
“Oke, simple aja. Gue mau lo mutusin hubungan lo sama Ranti.” Yulia kembali menyesap minumannya perlahan.
Seperti dugaan Ranto. “Gue mutusin Ranti? Hah! In your dream, Yulia!” sentak Ranto.
Yulia mengangkat bahunya tak peduli. “Kalau lo lebih suka ngelihat perusahaan papa Ranti bangkrut ya nggak apa-apa. Ternyata lo tega banget mau menghancurkan perusahaan keluarga Ranti,” ucap Yulia santai.
Ranto menarik tangan Yulia kasar. “Apa maksud lo?”
Yulia menepis cengkeraman Ranto pada lengannya. “Elo tau, ayah gue itu pemegang saham terbesar di perusahaan keluarga Ranti. Itulah sebabnya Ranti bertahan di sisi gue selama ini. Karena dia nggak mau perusahaan keluarganya akan bangkrut. Ngerti lo?”
Ranto melotot mendengar penjelasan Yulia. Jadi inikah alasan Ranti tetap bersahabat dengan Yulia. Demi perusahaan keluarganya, dia rela menahan diri atas segala tingkah laku Yulia. Pengorbanan Ranti pada perusahaan keluarganya sangat besar.
“Elo benar-benar kejam. Kok ada ya cewek kayak lo?” maki Ranto.
Yulia tersenyum manis. “Jadi gimana, Ranto? Elo mau mutusin hubungan lo sama Ranti? Gue janji nggak akan ganggu Ranti. Gimana?” Yulia mengajukan penawaran.
“Licik!”
“Terserah anggapan lo tentang gue itu apa. Asalkan ngelihat lo putus sama Ranti, gue udah cukup seneng walau gue nggak bisa miliki lo,” balas Yulia tak mau kalah.
“Oke, gue akan mutusin Ranti. Tapi lo harus memegang janji lo. Elo jangan pernah ganggu Ranti.  Kalau bisa lo ngejauh dari Ranti,” kata Ranto akhirnya.
Ranto berpikir, hanya inilah satu-satunya jalan keluar bagi masalahnya. Semoga Ranti mau mengerti dan tidak membencinya.
“Oke. Nggak masalah buat gue. Lagian gue berniat balik ke Aussie. Tapi sebelum itu, gue pengen ngerasain kencan sama lo. Gimana?” bujuk Yulia lagi.
Ranto berpikir sebentar, tidak ada salahnya dia menyanggupi keinginan gadis ini. Siapa tahu Yulia akan benar-benar menghilang dari kehidupan Ranti. Dan Ranto tak perlu khawatir lagi dengan keadaan gadis yang dicintainya itu.
“Nggak masalah. Asal lo mau nepati janji lo kalau lo akan menjauhi Ranti.” Ranto menyetujui.
“Gue bukan tukang ingkar janji,” kata Yulia sedikit tersinggung.
Setelah membayar minuman di kasir, Yulia segera menggandeng tangan Ranto keluar dari café. Awalnya Ranto risih, tapi melihat tatapan tajam Yulia, akhirnya laki-laki itu terpaksa menahan emosinya untuk tidak menyentakkan tangan Yulia. Ranto sama sekali tak sadar kalau ada sepasang mata yang penuh luka menatap dirinya dan Yulia. Bulir-bulir airmata mengalir deras dari sepasang mata itu.

“Cewek gilaaa ….” Fian tak bisa menguasai emosinya saat mendengar cerita Ranto secara lengkap.
“Kalau nggak gila, nggak mungkinlah dia memaksa gue putus dari Ranti dengan cara seperti itu?” tandas Ranto sambil menelungkupkan wajahnya ke meja.
“Gue benar-benar nggak percaya bisa ketemu cewek model gitu. Coba kalau gue ada di sana, gue akan omelin tuh cewek,” sembur Fian kesal.
Ranto meringis. “Emangnya lo cewek? Sejak kapan ada cowok ngomel-ngomel?” canda Ranto.
Fian menoleh. “Candaan lo garing banget.”
“Gue mau tidur, capek ….”
Ranto berdiri dan merebahkan tubuhnya di atas kasur.
                                                  ******
Ranto membuka matanya perlahan. Ditatapnya langit-langit kamarnya dengan perasaan campur aduk. Apakah dia tega memutuskan hubungan yang terjalin sekian tahun ini? Sungguh, Ranto tak ingin kehilangan Ranti, tapi tak ada jalan keluar untuk masalahnya ini.
Ranto melirik jam tangannya. Kurang tujuh menit lagi. Bergegas laki-laki itu berdiri. Mau tak mau dia harus memutuskan hubungannya dengan Ranti. Rela tak rela dia harus bisa melepas Ranti.
Ranto berlari menuju Taman. Sesampainya di Taman dilihatnya Ranti sedang duduk di bawah pohon dengan mata terpejam. Perlahan Ranto menghampiri gadis itu. Saat dia sudah berada di depan gadis itu, Ranti membuka matanya dan menatapnya dengan wajah dingin. Ranto merasa aneh dengan raut wajah Ranti. Dan belum sempat dia bertanya, Ranti mendahuluinya berkata-kata.
“Kita putus!” kata Ranti to the point.
Wajah Ranto langsung pias dan memandang Ranti tak mengerti, tapi gadis itu sepertinya tak memberi penjelasan apapun. Langkah kakinya mulai menjauhi Ranto dengan linangan airmata yang mengalir di pipi gadis itu.
Ranto tertawa sepeninggal Ranti. Dia menertawakan dirinya karena harus membiarkan salah paham di antara mereka. Ranto terduduk lemas di kursi taman. Wajahnya memerah menahan airmata yang hendak keluar. Bagaimanapun juga laki-laki pantang untuk menangis.
Awan di atas berarak mengitari Ranto. Seolah-olah menghibur laki-laki itu. Angin yang semilir menjadi saksi bisu putusnya hubungan cinta yang suci ini.

















0 komentar:

Posting Komentar