Novel ini aku dapat sebagai hadiah dari GA yang diadakan penulisnya, yang kebetulan salah satu teman penulisku yang paling dekat, Ariny Nurul Haq a.k.a Ririn.
Sinopsis Back Cover a.k.a Blurb:
Cinta itu tak seperti matematika yang hasilnya pasti sama persis dengan kita perhitungkan. Terkadang Allah menjodohkan seseorang dengan orang yang berbanding terbalik dengan seseorang itu. Tujuannya biar saling melengkapi.
Seperti yang dialami Andhini Maharani atau biasa disapa Rani. Ia berusia 20 tahun, gadis ini tercatat sebagai mahasiswi teladan di fakultas ternama di Jakarta. Ia jomblo akut, dari lahir nggak pernah pacaran sama cowok. Eits, bukan karena dia nggak laku atau nggak suka cowok, tapi karena dia punya segudang tipe idaman. Tipe idamannya: nggak boros, makai kacamata tipis, smart, bersih dari jerawat, berpakaian rapi, sabar, bijaksana, dan paling penting sayang sama adiknya.
Ia justru jatuh cinta sama Raditya Saunders. Cowok yang super duper boros, hobby-nya travelling dan menghambur-hamburkan uang papanya. Untuk menyatukan 2 hati yang saling mencintai ke ikatan suci pernikahan tentu bukan hal yang mudah. Rnai dan Radith dihadapkan pada ujian yang dahsyat. Andhina Rosalia, yang berstatus sebagai adik kandung Rani justru mencintai Radith juga.
Rani berada di sebuah persimpangan, ia bingung memilih jalan yang mana. Jalan antara merelakan Radith untuk Andhina, atau mempertahankan Radith?
Review:
Pertama kali baca novel ini, mataku langsung melotot. Bukan karena bab pembukanya yang bikin tegang, tapi karena banyak typo yang bertebaran di dalamnya. Upss, peace, Rin. :p
Oke, kembali ke jalan cerita novel ini. Awalnya aku sempat mau protes, karena nggak masuk akal banget cara menyembuhkan trauma dengan membuat penderitanya itu tertawa. Pleaseee dehh, kok nggak masuk akal banget gitu... kalau caranya kayak gitu, penderita trauma nggak akan kesusahan dong sampai ke psikiater segala, bahkan ada yang sampai masuk RSJ. Hal ini sampai aku catat dalam hati, mau protes ke penulisnya, tapi pas baca mendekati ending, aku nggak jadi protes. Ealahh, ternyata gitu tho. Padahal mau protes tapi nggak jadi. :v
Okee, kalau kayak gitu ceritanya, jadi masuk akal. :v
#plakk
Seperti tulisan Ririn yang selama ini kukenal, terlalu banyak dialog dan minim deskripsi. Duhh, Rin... tolong dong jangan banyak dialog, kesannya kayak naskah drama. Lain kali pengin baca naskahmu yang seimbang antara deskripsi dan dialog, biar nggak kayak naskah drama lagi. :p
Ceritanya terlalu teenlit, bahasanya maksudku. Padahal ini masuk kriteria young adult, kan? Tolong sesuaikan gaya bahasa dengan kriteria cerita. Sebenarnya alur ceritanya bagus, kalau aja konfliknya lebih greget lagi. Dan apa ya, lelucon yang dilontarkan Radit itu garing banget sumpah, aku yang sebagai pembaca aja nggak ketawa, apalagi Andhina. :v
Btw, ini nama-nama tokoh di dalamnya ada di dunia nyata semua, kan? Malaya itu si May, pacarnya Bima itu bukan? :O
Itu nyata tah kalau Malaya dulu pernah jadian sama Radith? ._.
Sumpah, aku penasaran! :v :v
Next, pengin baca novelmu yang lebih keren dari ini. Semangat yaa, Rin~! ^^//
Okee, akhir kata, aku protes karena nggak ada tanda tangan dan cap bibirmu di novel ini. Kau menyebalkan! :v
Wkwkwkwk :v :v

0 komentar:
Posting Komentar